Sudah menjadi tradisi bagi Masyarakat di Indonesia setelah Idul Fitri selesai mengadakan acara yang dinamakan "Halal Bihalal ". Rupanya acara seperti ini hanya ada di Indonesia saja dan tidak ada di negara-negara Islam maupun Eropa.
Dalam acara halal bihalal berkumpul para sahabat, kerabat, saling meminta maaf satu dengan yang lain dan bernostalgia, dan sebagainya. Namun, sebenarnya apa makna dari halal bihalal ?.
Istilah " Halal" sudah tidak asing ditelinga kita. Apalagi perkembangan islam di indonesia tidak jauh-jauh dari istilah halal dan haram. Banyak di forum Diskusi maupun batsul masail muncul pertanyaan terkait halal dan haram.
Sebenarnya istilah " Halal" berasal dari kata kerja ( masdar ) " halla yahillu halalan", dan diartikan oleh kita dengan arti " boleh" atau " dibolehkan ". Maksudnya jika sesuatu itu halal maka sesuatu tersebut"boleh".
Tetapi rupanya dari akar kata tersebut ada " halla yahillu hillan " yang artinya adalah "jalan keluar atau solusi". Dan ada lagi dari akar kata halal yaitu" inhillan" yang artinya adalah dekadensi atau kemrosotan. Misalnya kalimat " inhillal akhlaqi " yang artinya kemrosotan moral.
Jadi, kata halal itu sebenarnya memiliki banyak variasi makna. Kurang lebih ada 80 makna. Dan yang paling dominan adalah halal sering diartikan dengan " boleh".
Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa dari asal kata " halal" tersebut memiliki makna "menempati" atau "menempatkan sesuatu pada tempat yang benar atau tempat yang semestinya". Jadi, sesuatu itu dikatakan halal jika ditempatkan di tempat yang semestinya.
Contoh, ada sebuah pertanyaan tentang bagaimana hukumnya pacaran ?. Maka pacaran itu boleh jika berada didalam rumah, ada calon mertua dan berdiskusi bersama tentang masa depan, seperti bagaimana kelak setelah menikah, akan tinggal dimana, bekerja apa dan lain sebagainya. Maka ini boleh dan penting. Tapi jika pacaran berada di tempat remang dan hanya berdua saja, ini tidak boleh.
Contoh lain, kangkung itu halal, tapi jika ditaruh dalam fas bunga lalu diletakkan diatas meja tamu sebagai hiasan maka tentu bukan pada tempatnya, karena kangkung semestinya untuk dibuat sayur. Sebaliknya bunga anggrek jika dimasak jadi rujak, juga bukan pada tempat atau fungsinya.
Logika sederhananya adalah segala sesuatu yang diciptakan Alloh di alam ini semua diperuntukkan bagi manusia, sebagaimana firman Alloh " Wa kholaqo lakum ma fissamawati wama fil ardhi ".
Kata halal kebalikanya adalah Kata haram. Kata haram diartikan oleh banyak orang dengan arti " tidak boleh " atau " dilarang/larangan". Kata haram berasal dari kata hurmah yang berarti hormat ( jika dalam bahasa Indonesia). Masjidil Haram berarti masjid yang dihormati atau masjid yang terhormat, bukan masjid yang dilarang.
Lantas kenapa Alloh menggunakan kata haram untuk membatasi hal-hal tertentu kepada manusia?. Ini karena Alloh ingin menjaga kehormatan manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk paling terhormat dibandingkan makhluk lainya bahkan dari malaikat sekalipun. Tapi anehnya ada manusia yang merasa bangga jika bisa bertemu jin atau malaikat dan makhluk lainnya. Padahal ibarat kopral ( makhluk lain ) bertemu jenderal ( manusia). Seharusnya yang merasa bangga adalah kopral bukan jenderal.
Bukankah semakin tinggi kedudukan atau jabatan seseorang maka semakin ketat pula protokol yang harus dia taati, semata untuk menjaga kehormatan orang itu sendiri. Jika kita menyadari bahwa larangan Alloh atau "haram" merupakan cara Alloh menjaga kehormatan kita sebagai manusia maka "haram" bukan menjadi beban justru kita rela dan senang hati menghindari dan mencegah.
Makna Halal Bihalal
Halal Bihalal sebenarnya adalah momentum untuk melakukan " Reposisi" diri atau kembali pada posisi ( tempat ) kita yang semestinya, sesuai proposal Tuhan.
Dengan Halal Bihalal seorang istri kembali pada posisinya sebagai istri yang baik. Begitupun seorang suami. Dengan Halal Bihalal seorang bawahan kembali pada posisinya selaku bawahan. Begitupun dengan atasan. Sehingga tidak terjadi tumpang tindih.
Keharmonisan dan kerukunan dalam sebuah komunitas atau kelompok masyarakat sering rusak akibat adanya kesombongan. Kesombongan dapat merusak dan menyebabkan laknat Tuhan sebagaimana yang terjadi pada iblis.
Wallohu A'lam...



0 Komentar