Selamat Ulang Tahun Ke 28 Keluarga Besar SMPN 2 Lengkong Nganjuk

Pemandangan acara ulang tahun ke 28 SMPN 2 lengkong di panggung sederhana tapi rapi narasumber sedang berbicara

Hari sabtu 14 Februari kemarin tampak suasana hangat. Bagaimana tidak ? Ratusan orang tua ( wali murid ) datang dan memasuki gerbang sekolah. Ini bukan pembagian raport seperti biasanya tapi hari jadi atau dies natalis ke 28 SMPN 2 Lengkong.


Usia 28 tahun adalah usia yang cukup matang bagi sebuah lembaga pendidikan untuk mencetak generasi muda di wilayah Kecamatan Lengkong dan sekitarnya.


Yang jadi spesial pada kali ini adalah pihak sekolah tidak mengadakan perayaan pesta pora berlebihan, justru memberikan kado terindah buat orang tua dan para siswa berupa kegiatan Parenting.


Semacam pertemuan besar yang menyatukan antara hati, pikiran dan langkah antara Bapak-Ibu ( wali murid ) dirumah, para siswa dan Guru ( pendidik ).


Acara yang di pandu oleh bu diah ( Selaku MC ) diawali dengan penampilan para siswa. Diatas panggung yang sederhana namun tertata rapi ananda okta dan asadel menampilkan kemampuan mereka dalam olah vokal ( menyanyi ), suasana pun jadi lebih santai.


Tak cuma itu saja, suasana jadi meriah dengan disusul penampilan beberapa siswi yang menampilkan tarian tradisional dengan rancak. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Sekolah SMPN 2 Lengkong Ibu Tutut Nurnaningsih, S.Pd.,M.Si.


Narasumber Parenting


Acara inti pun dimulai dan sebagai narasumber Parenting adalah ibu Saraswati Eva yuswikarini, S.Psi. Seorang ahli psikologi yang hadir bukan untuk menggurui namun untuk berbagai ilmu dan rasa tentang bagaimana menghadapi anak usia remaja ( SMP ) yang sering membuat orang tua mengeluh.


Dalam penyampaianya ibu Saraswati menggunakan bahasa sehari-hari yang santai sehingga para orang tua tampak antusias menyimak.



Pemandangan acara ulang tahun ke 28 SMPN 2 Lengkong, foto bersama siswa, guru, wali murid, di tenda kegiatan



Anak SMP Bukan Anak Kecil Lagi


Diantara yang di sampaikan oleh Bu Saraswati adalah tentang ekspektasi atau harapan dan kenyataan. Dimana kita atau orang tua seringkali punya harapan tertentu pada anaknya, misalnya jadi anak penurut, tidak pernah membantah dan selalu belajar tiap malam. Itu adalah ekspektasi kita.


Tapi bu Saraswati mengingatkan realitanya. Anak usia SMP sedang mengalami masa pubertas. Cara berfikir mereka berubah, suara mereka berubah, tubuh mereka berubah, kadang lebih suka curhat ke teman daripada ke orang tua, bahkan kadang berani menjawab saat dinasehati.


Bu Saraswati menjelaskan bahwa itu fase alami, mereka sedang mencoba mandiri. Jika kita terus memaksa mereka jadi robot yang nurut 100 % maka 
membuat mereka semakin tertekan dan menjauh dari kita.


Kita harus sedikit menurunkan ego dan mencoba memahami dunia mereka.
Selain tersebut diatas masih banyak yang disampaikan oleh bu Saraswati, mulai dari pola komunikasi, edukasi psikologi remaja, membangun sistem Support dan lain-lain.


Melalui kegiatan ini sekolah berharap tidak ada lagi jarak lebar antara orangtua, anak dan Guru. Dengan memahami psikologi remaja dan memperbaiki cara komunikasi, kita berharap para siswa SMPN 2 Lengkong tak hanya cerdas, tapi baik akhlaknya dan sehat jiwanya.


Tips Praktis Menghadapi Anak Remaja 


Saat anak mulai berani menjawab atau curhat, cobalah untuk tidak langsung memotong atau memarahi. Berikan ruang pada mereka untuk menjelaskan isi hatinya.


Remaja sering merasa emosinya meledak-ledak. Mengakui bahwa " bahwa ibu mengerti kamu sedang lelah/sedih", jauh lebih efektif ketimbang berkata " gitu aja kok nangis ".


Disarankan agar orang tua mengajak diskusi anaknya mengenai aturan rumah, misalnya mengenai jam belajar dan bermain gedget.


Pastikan bahwa rumah dan sekolah adalah menjadi tempat yang paling aman untuk mereka pulang. Bukan tempat dimana mereka terus-menerus di kritik.















Posting Komentar

0 Komentar