Dalam Al-Qur'an setiap kata memiliki nuansa asror ( makna ) yang berbeda. Dan salah satu yang menarik adalah ketika Alloh Swt menetapkan kewajiban puasa dalam surat Al-Baqoroh ayat 183.
Allah tidak menggunakan kata "farodho" ( diwajibkan) yang umumnya digunakan untuk hukum, tapi menggunakan kata " kutiba" ( ditetapkan/tertulis).
Adanya perbedaan diksi ini bukanlah kebetulan. Ini menyimpan rahasia tentang bagaimana Alloh memandang puasa, bagaimana tingkat penekananya bagi manusia, dan bagaimana sejarah spiritual manusia dirajut dalam satu garis "tulisan " yang sama.
Secara bahasa kata " kutiba" berasal dari akar kata " Ka- Ta-Ba " yang artinya menulis atau mengumpulkan. Tapi dalam konteks syariat kata ini mengalami pergeseran makna menjadi " kewajiban " atau "ketetapan ".
Mengapa Harus Tertulis ?
Dalam peradaban manusia, sesuatu yang disampaikan secara lisan bisa saja terlupakan, disalahpahami atau bahkan dianggap sekedar himbauan belaka.
Tapi jika sesuatu itu maktub ( tertulis) memiliki kekuatan hukum statis, permanen, formal. Dengan menggunakan kata " kutiba" Alloh Swt ingin menegaskan bahwasanya puasa ramadhan adalah kontrak suci yang sudah di paraf oleh takdir dan tak ada ruang negosiasi bagi yang beriman.
Kata Kutiba vs Farodho
Meskipun keduanya sama-sama bermakna "wajib" tapi memiliki nuansa yang sangat berbeda.
1. Farodho
Kata farodho berasal dari makna "memotong " atau " memberi jatah". Dalam istilah hukum, fardhu adalah sesuatu yang sudah ditentukan porsinya, misalnya jatah warisan ( faroid ) dan jumlah rekaat sholat. Penekananya pada aturan main atau aspek hukum.
2. Kutiba
Beda dengan " kutiba" menekankan pada aspek kepastian dan keabadian. Biasanya kata kutiba dalam Al-Qur’an digunakan untuk perkara yang melibatkan pergulatan batin yang hebat atau taruhan nyawa.
Misalnya, Qishosh ( hukum balas ), " Kutiba alaikumul Qishosh " ( Al-Baqoroh ayat 178 ). Misalnya lagi, Puasa " kutiba alaikumus shiyam" ( Al-Baqoroh ayat 183 ). Berperang ( jihad ) " kutiba alaikumul qital " ( Al-Baqoroh ayat 216).
Ke 3 hal diatas punya kesamaan yaitu sangat berat bagi nafsu manusia. Membayar nyawa dengan nyawa itu berat, pergi perang itu juga berat, puasa menahan lapar dan haus selama 1 bulan itu juga berat.
Untuk itulah Alloh menggunakan kata Kutiba untuk memberi penekanan mental yang tinggi supaya orang-orang beriman menyadari bahwa ini ketetapan langit yang sudah tertulis di lauhul mahfudz sebelum mereka diciptakan.
Jembatan Sejarah Para Nabi
Pada surat Al-Baqoroh ayat 183 tentang kewajiban puasa dilanjutkan dengan frasa " Kama kutiba alalladzina min qoblikum " ( Sebagaimana ditetapkan atas orang-orang sebelum kamu ).
Pengulangan kata "kutiba" disini memiliki fungsi penguat psikologis. Secara psikologis beban yang dipikul sendiri akan terasa lebih berat, dibandingkan beban yang diketahui juga dipikul oleh orang lain.
Seolah Alloh berkata " janganlah merasa berat dengan puasa ini, karena "tulisan" kewajiban ini sudah ada pada lembaran umat terdahulu sebelum lembaran kalian dibuka ".
Kontrak rahasia ( ibadah sirri)
Ibadah sholat gerakanya dapat terlihat, zakat ada wujud hartanya, tapi puasa adalah ibadah rahasia.
Tak ada yang tahu apakah seseorang benar-benar puasa ataukah tidak. Yang tahu hanyalah dirinya dan Alloh Swt. Disinilah kata " kutiba " bekerja.
Dikarenakan tidak ada pengawasan dari manusia maka pengawasanya bersifat legal-spiritual yang tertanam kuat dalam jiwa. Kata " kutiba" menciptakan kesadaran bahwa " kontrak ini tertulis secara resmi dihadapan Alloh, meskipun manusia tidak melihatKu menjaganya ".
Wallohu A'lam...
0 Komentar